CIREBON – Nilai investasi yang masuk ke Kabupaten Cirebon, sepanjang 2026 disebut telah menembus Rp3 triliun. Namun demikian, DPRD Kabupaten Cirebon mengingatkan, besarnya nilai investasi tidak boleh hanya berhenti pada angka. Khususnya perusahaan atau pabrik yang berada di Cirebon Timur.
Investasi harus memberikan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri serta di dukung dengan kondusivitas lingkungan oleh semua pihak.
Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Cirebon, Aan Setyawan mengatakan, berdasarkan data yang diketahuinya, nilai investasi Kabupaten Cirebon pada 2026 berada di kisaran Rp3,2 triliun.
“Kalau tidak salah sekitar Rp3 triliun ke atas. Rp3,2 triliun kalau tidak salah, investasi Kabupaten Cirebon untuk 2026,” ujar Aan.
Menurutnya, investasi terutama sektor industri memiliki efek berantai yang cukup besar bagi perekonomian masyarakat.
Selain membuka lapangan pekerjaan, keberadaan pabrik juga dapat mendorong tumbuhnya UMKM, usaha kos-kosan, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya di sekitar kawasan industri.
“Investasi ini tentunya akan menyerap tenaga kerja kalau memang itu pabrik. Kemudian multiplier effect-nya di sekitar pabrik juga banyak, bisa UMKM, kos-kosan dan sebagainya,” katanya.
Dari sisi pemerintah daerah, investasi juga berpotensi memberikan tambahan pendapatan melalui berbagai aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar perusahaan.
Karena itu, Aan menilai investasi dari luar daerah yang masuk ke Kabupaten Cirebon pada dasarnya memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Namun, DPRD mengingatkan pemerintah daerah agar tidak sekadar mengejar besaran nilai investasi.
Aan mendorong agar pemerintah lebih memprioritaskan investasi yang bersifat padat karya, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal.
“Jangan sampai hanya sebatas padat modal,” tegasnya.
Ia mencontohkan investasi bernilai besar di sektor tertentu yang belum tentu sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang terserap.
Menurutnya, investasi dengan nilai triliunan rupiah tetapi hanya membuka sedikit lapangan pekerjaan perlu menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan prioritas investasi.
Sebaliknya, ia mencontohkan perusahaan seperti PT Longrich yang menurutnya dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Dengan misalnya investasi Rp1 triliun, dia bisa menyerap tenaga kerja sampai 20.000 sampai 25.000 orang. Tentunya ini menguntungkan buat kita, karena warga kita bisa bekerja,” ujarnya.
Di sisi lain, DPRD juga menyoroti kewajiban perusahaan terhadap lingkungan sosial di sekitar lokasi usaha.
Politisi dapil V itu mengatakan, perusahaan yang berinvestasi di Kabupaten Cirebon harus memastikan seluruh perizinan berjalan sesuai ketentuan, termasuk kesesuaian dengan tata ruang daerah.
Ia mengingatkan agar kawasan yang tidak diperuntukkan bagi industri tidak kemudian dialihfungsikan menjadi kawasan industri.
“Jangan sampai kita melanggar aturan yang sudah dibuat dan disepakati pemerintah daerah. Misalnya lahan sawah jangan sampai digunakan untuk lahan industri,” katanya.
Selain kepatuhan terhadap tata ruang, kontribusi perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR juga dinilai penting.
Aan menyebut, selama ini sejumlah perusahaan telah memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar, meski pelaksanaannya masih berjalan secara masing-masing.
Bantuan tersebut antara lain untuk kebutuhan penerangan jalan hingga akses jaminan kesehatan bagi masyarakat.
Ia mencontohkan Rumah Sakit Mitra Plumbon yang disebut mampu meng-cover hingga 1.000 warga untuk mendapatkan BPJS PBI.
Konsep kontribusi perusahaan tersebut, kata Aan, ke depan diharapkan dapat dikoordinasikan lebih baik melalui Forum CSR Kabupaten Cirebon.
Forum tersebut nantinya diharapkan menjadi wadah untuk memetakan kebutuhan masyarakat di sekitar perusahaan sehingga program CSR tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Siapa-siapa di daerah mana, nanti apa yang menjadi kendala daerah situ, tentunya itu yang harus dipecahkan bersama oleh teman-teman perusahaan,” ujarnya.
Aan menilai secara umum keberadaan perusahaan dan investasi di Kabupaten Cirebon masih memberikan dampak positif bagi daerah.
Ia menyebut, sejumlah perusahaan juga mulai memberikan kontribusi langsung terhadap kebutuhan lingkungan sekitar.
Salah satunya PT Chinli Plactic Material Indonesia yang, menurut Aan, telah didorong untuk membantu pemasangan penerangan jalan umum (PJU) di sekitar kawasan perusahaan.
“PT Chinli misalnya, pabrik Chindi itu untuk pasang PJU. Mereka taat, ada pasang entah 10 entah 20 titik,” katanya.
Menurutnya, dukungan terhadap infrastruktur lingkungan seperti PJU bukan hanya berkaitan dengan estetika kawasan, tetapi juga menyangkut keamanan masyarakat di sekitar perusahaan.
Dengan demikian, DPRD berharap investasi yang masuk ke Kabupaten Cirebon tidak berhenti pada pembangunan pabrik dan penanaman modal.
Ukuran keberhasilan investasi, kata Aan, juga harus terlihat dari berapa banyak warga yang mendapatkan pekerjaan, seberapa besar ekonomi masyarakat tumbuh, serta seberapa jauh perusahaan ikut menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitarnya.
“Masih sangat positif,” tegasnya.
Senada disampaikan, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Cirebon, Hj Ismiyatul Fatihiyah Yusuf BComm MPA yang mengatakan, masuknya investasi ke Cirebon Timur harus diikuti dengan upaya menjaga kondusivitas daerah serta memberikan kepastian bagi para pelaku usaha.
Menurutnya, investasi memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui pembukaan lapangan kerja baru, peningkatan aktivitas usaha masyarakat, serta bertambahnya potensi pendapatan daerah.
“Investasi harus kita jaga iklimnya agar tetap kondusif. Pemerintah daerah perlu memberikan kepastian dan pelayanan yang baik kepada investor, namun di sisi lain kepentingan dan manfaat bagi masyarakat sekitar juga harus menjadi perhatian,” ujar Ismi.
Ia menilai Cirebon Timur memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang menjadi salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Karena itu, pembangunan infrastruktur pendukung dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan masuknya investasi.
“Jangan sampai investasi hanya berdampak pada kegiatan usaha, tetapi masyarakat sekitar tidak mendapatkan manfaat yang optimal. Harus ada keterlibatan tenaga kerja lokal, pemberdayaan UMKM dan program sosial yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat,” katanya.
Ismi juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu terus melakukan evaluasi terhadap berbagai regulasi dan pelayanan yang berkaitan dengan investasi agar tidak menimbulkan hambatan bagi dunia usaha. Pada saat yang sama, pengawasan terhadap pelaksanaan investasi tetap diperlukan agar kegiatan usaha berjalan sesuai ketentuan.
“Yang kita harapkan adalah investasi yang tumbuh sehat, memberikan kepastian bagi dunia usaha, meningkatkan PAD, membuka lapangan pekerjaan dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Cirebon, khususnya masyarakat Cirebon Timur,” tandasnya. (CP-10)





Be the first to comment on "Investasi Cirebon Timur Tunjukan Trend Positif, DPRD Ingatkan Pabrik yang Masuk Utamakan Serapan Tenaga Kerja"