Ada yang tak bisa mudik bukan lantaran enggak pengen -bukan, masalahnya ingin sekali pulang kampung: nyekar dan membersihkan makam bapak ibu, bersalaman dengan sanak saudara atau mencicipi makanan khas ndeso yang jarang ada, seperti sambal goreng kentang petai, opor kuah kuning, atau bahkan sagon dan nagasari. Ditengah rutinitas mengayuh pedal mengais rejeki, ongkos mudik, kesemrawutan menjalankan peran untuk menafkahi keluarga dan segala tetek bengek yang memerihkan bagi jerih payah terkadang tak sesuai harapan. Terlebih in this economy mudik menjadi tambah berat dengan biaya hidup yang serba mencekik.
Tak ada orang yang tak mau mudik, mengumpulkan receh dengan menabungnya sepanjang tahun, tapi pas momennya, recehan itu raib, entah untuk biaya berobat, uang spp atau sekadar membeli beberapa liter beras untuk menyambung hidup yang mereka anggap berjejalan dusta dengan iming-iming harapan di negeri yang mereka cintai ini.
Beruntunglah bagi sesiapa yang sudah bisa atau biasa mudik-yang tak memikirkan tiket bus atau sepur, yang membawa banyak oleh-oleh baik untuk berbagi atau sekadar Flexing bahwa hidupnya di tanah rantau sudah sukses.
Beruntung untuk para pemudik yang memilih momen Idulfitri sebagai semacam ritual membersihkan diri dan mengenang kampung halaman dengan datang bertandang dan menyerap kembali energi. Di tanah rantau kita seringkali kangen masakan ibu atau nenek, kangen bermain di sawah atau kangen percakapan-percakapan manis saat panen raya tiba, meski saat itu harga gabah teramat murah dan suguhan di meja hanya teh manis kental dengan sedikit gula tanpa kudapan
Tanah rantau adalah adu nasib yang terus bergemuruh. Tanah rantau bukanlah pelarian karena menanggung beban dan kemelaratan saat hidup di desa. Tanah rantau sebentuk pilihan bahwa nasib kita bergantung pada kerja dan kemandirian, bukan merengek ke orangtua yang selama ini sudah menghibahkan kasih sayang tulus kepada kita.
Maka, Mudik adalah etape sunyi dari perjalanan bakti. Jangan mengharapkan amplop THR, segerobak kue-kue kering dan jinjingan sarat hadiah. Jangan menuntut dibagikan rejeki melimpah. Mudik dengan selamat dan bisa berjumpa dengan saudara dan orangtua sudah satu keistimewaan sendiri. Karena mudik bukanlah kepulangan, tapi semacam ziarah batin yang tak melupakan nasab dan jatidiri. Bahwa kita berurat akar dari tanah leluhur yang ditinggalkan demi gemerlap perantauan. Bahwa mudik adalah doa-doa yang dihimpun kembali agar kelak mampu menakar hidup yang tak begini-begini saja rasanya.
Mudiklah karena taqwa dan keikhlasan. Aamiin ya Robbal ‘alamin. (*)





Be the first to comment on "MUDIK"