JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik mengatakan, Partai Gelora berkomitmen hadir mendampingi masyarakat yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah, khususnya di Sumatera dan Kalimantan.
Mahfuz menginstruksikan seluruh jajaran pengurus, kader, dan simpatisannya di daerah untuk bergerak cepat menyalurkan bantuan kepada warga yang terimbas krisis kabut asap.
Intruksikan tersebut ia sampaikan di sela-sela Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk ‘Perang di Timur Tengah Mereda: Hingga Pemilu Usai? yang digelar secara daring pada Jumat (16/10) malam.
“Kepada saudara-saudara kita yang ada di Kalimantan dan Sumatra yang masih terus berjuang menghadapi kepungan asap, kami menyampaikan rasa keprihatinan dan solidaritas yang mendalam. Kami mendorong seluruh sahabat Gelora di sana untuk terus membantu warga masyarakat dengan apa pun kemampuan yang kita miliki,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Minggu (18/10).
Mahfuz mengajak seluruh kader Partai Gekora dan masyarakat di berbagai daerah untuk berdoa bersama agar segera hujan dan musibah ekologis akibat karhutla ini dapat segera teratasi.
“Kita berharap pemerintah bisa segera menuntaskan masalah ini hingga ke akarnya. Dan semoga Allah SWT memberikan pertolongan bagi bangsa kita dengan menurunkan hujan yang lebat dan merata, sehingga musibah api dan asap ini bisa segera berakhir,” katanya.
Ia menaruh harapan besar kepada pemerintah pusat maupun daerah agar segera mengambil langkah tegas dan efektif untuk memadamkan titik api serta mengusut tuntas penyebab kebakaran.
Menurut dia, karhutla bukanlah bencana alam baru, melainkan musibah lingkungan yang terus berulang selama hampir 45 tahun sejak 1983.
Ia mencatat sedikitnya tujuh kali peristiwa karhutla berskala sangat besar dengan total luas area yang terbakar mencapai tak kurang dari 16 juta hektare.
Sekjen Partai Gelora ini menekankan, bahwa Indonesia—yang memiliki sekitar 60% hutan gambut tropis dunia—seharusnya sudah mampu merumuskan pola kejadian dan solusi sistemik yang efektif agar bencana ekologis ini tidak diwariskan ke generasi mendatang.
“Kita tidak bisa terus berapologi bahwa lahan gambut kita luas. Dari analisis empat variabel—pola waktu, lokasi, luas area, serta tindakan pasca-kejadian—terlihat jelas dari titik panas (hotspot) tingkat kepercayaan tinggi bahwa mayoritas kebakaran besar terjadi di lahan konsesi milik perusahaan,” jelas Mahfuz.
Ia membantah opini yang memojokkan masyarakat lokal atau petani tradisional lewat tradisi tebas-bakar sebagai penyebab utama.
Menurut kajiannya, faktor utama karhutla justru didorong oleh aktivitas korporasi perkebunan maupun industri.
Oleh sebab itu, ia mendesak pemerintah menggunakan otoritas penuh secara tegas untuk menegakkan hukum tanpa terpengaruh oleh kekuatan korporasi.
Terkait rencana diversifikasi energi nasional seperti pengembangan bahan bakar nabati (biofuel), Mahfuz mengigatkan adanya tantangan lingkungan akibat berulangnya bencana karhutla.
Ia menilai industrialisasi lahan hutan untuk proyek energi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu pembalasan ekologis maupun tekanan internasional.
“Bencana karhutla harus diselesaikan dulu secara sistemik. Jangan sampai industri energi terus bertumbuh tetapi merusak ekosistem dan menciptakan ketidakadilan lingkungan,” pungkasnya. (CP-10)





Be the first to comment on "Mahfuz Sidik Instruksikan Kader Gelora Bantu Korban Asap Karhutla dan Gelar Doa Bersama Minta Hujan"