Java Buana Ciremai, Peran BI dan Masa Depan Kopi Kuningan

Foto : CP-10 KOPI JAVA BUANA CIREMAI. Bersama Bank Indonesia (BI) Cirebon, Petani Muda dari Kenandra Kopi, Roby SHut saat menjelaskan proses produksi kopi Java Buana Ciremai dari hulu ke hilir di Botanika Kuningan, Kamis (10/9)

KUNINGAN – Masa depan kopi dari lereng Ciremai Kuningan mulai nampak nyata. Kegigihan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang didampingi Bank Indonesia (BI) Cirebon untuk segera menetapkan merk kopi ‘Java Buana Ciremai’ selangkah lagi segera terwujud. Hal ini menunjukan langkah nyata dan masa depan kopi di Kuningan go internasional.

Kabupaten Kuningan sendiri tercatat sebagai daerah dengan produksi kopi robusta terbesar kedua di Jawa Barat. Produksi kopi robusta Kuningan pada 2025 mencapai 1.157 ton atau sekitar 1,157 juta kilogram dalam setahun. Kuningan berada di bawah Kabupaten Bogor yang mencatat produksi 3.603 ton. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi Kuningan juga berada di atas sejumlah daerah penghasil kopi robusta lainnya. Kabupaten Tasikmalaya berada di posisi ketiga dengan produksi 1.030 ton, disusul Ciamis 936 ton dan Garut 469 ton. Dalam data tersebut, produksi Kuningan lebih tinggi 127 ton dibandingkan Tasikmalaya dan 221 ton dibandingkan Ciamis. Jika dibandingkan dengan Garut, selisihnya mencapai 688 ton.

Data tersebut menunjukkan adanya konsentrasi produksi yang cukup besar pada sejumlah daerah. Dari 10 daerah yang tercantum, total produksi mencapai 8.830 ton. Kuningan menyumbang sekitar 13,1% dari total produksi tersebut. Dari sisi produksi, jarak Kuningan dengan posisi pertama masih cukup besar. Produksi Bogor mencapai 3.603 ton atau sekitar 3,1 kali produksi Kuningan. Selisih produksi keduanya mencapai 2.446 ton.

Sebaliknya, posisi Kuningan relatif berdekatan dengan daerah di bawahnya. Produksi Tasikmalaya hanya terpaut 127 ton, sedangkan Ciamis terpaut 221 ton. Kondisi tersebut menempatkan Kuningan dalam kelompok empat besar sentra produksi robusta Jawa Barat bersama Bogor, Tasikmalaya, dan Ciamis. Di bawah kelompok tersebut, terdapat Garut dengan produksi 469 ton, Subang 439 ton, Karawang 378 ton, Sumedang 330 ton, Pangandaran 279 ton, dan Majalengka 209 ton. Dari perspektif ekonomi, angka 1.157 ton memberikan gambaran mengenai besarnya basis produksi kopi robusta Kuningan. Namun, besarnya volume produksi belum cukup untuk menggambarkan seberapa besar manfaat ekonomi yang mengalir kepada petani dan pelaku usaha lokal.

Kopi arabika Kuningan umumnya ditanam di wilayah dataran tinggi yang memiliki karakter agroklimat sejuk dan curah hujan relatif stabil. Kondisi tersebut dinilai cocok untuk menghasilkan biji kopi dengan karakter rasa yang lebih kompleks, meskipun dari sisi volume masih terbatas karena skala kebun yang kecil dan sebagian tanaman masih dalam fase belum menghasilkan.

Dimana, produktivitas robusta relatif lebih tinggi dibandingkan arabika. Faktor utamanya adalah kesesuaian lahan di wilayah Kuningan yang mendukung pertumbuhan robusta, serta pengalaman petani dalam pengelolaan kebun yang sudah berlangsung cukup lama sejak zaman belanda. Selain itu, robusta dinilai lebih adaptif terhadap variasi kondisi iklim dibandingkan arabika.

Untuk itu, peningkatan produktivitas dan mutu kopi melalui berbagai program pendampingan teknis. Diantaranya, meliputi penerapan praktik budidaya yang baik, peremajaan tanaman tua, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman yang kerap menurunkan hasil panen. Selain aspek budidaya, perbaikan kualitas pascapanen, mulai dari proses panen selektif hingga pengolahan biji kopi yang lebih standar. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah kopi Kuningan di pasar, baik lokal maupun luar daerah. Pengembangan kopi di Kabupaten Kuningan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, Taufik Hernawan terus konsisten dan gigih memperkenalkan Kopi Java Buana Ciremai. Bahkan, sertifikasi nama kopi Java Buana Ciremai sendiri tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan pengakuan utuh.

Kopi Java Buana Ciremai sendiri merupakan kopi kelompok tani sekaligus merek (brand) kolektif kopi yang mengelola dan memasarkan hasil panen kopi khususnya varietas Arabika dari lereng Gunung Ciremai. Keberadaan kopi Java Buana Ciremai bermula dari keresahannya terhadap praktik pencatutan merek yang merugikan petani lokal. Menurutnya, kopi dari Gunung Ciremai kerap kehilangan identitas asalnya begitu masuk ke tangan pembeli besar dari luar daerah.

Dimana, eksistensi kopi di wilayah ini bukan barang baru. Taufik menyebut budi daya kopi di Kuningan-Majalengka merupakan warisan zaman Belanda sejak 1853. Selama 150 tahun lebih, varietas Arabika, Robusta, hingga Liberika tumbuh subur di lokasi tersebut.

“Kopi dari Gunung Ciremai ini banyak diambil orang luar kota. Brand-nya lepas. Kalau diambil kota A, namanya jadi kopi kota A. Asal geografis Kuningannya hilang. Kami mau melindungi ini, jangan sampai identitas aslinya hilang. Arabika, Robusta, Liberika. Ketiga kopi ini hasil sebenarnya warisan dari nenek moyang kita yang ditanam Belanda 1852,” ungkap Taufik.

Nama Java Buana Ciremai sendiri merujuk pada dua lokasi utama, yakni Gunung Cakra Buana di Majalengka dan Gunung Ciremai yang melintasi dua kabupaten. Menurutnya, kopi Gunung Ciremai memiliki karakteristiknya tidak jauh dari kopi Jawa Barat lain yang cenderung fruity dengan aroma unik seperti melati, aren, hingga nanas yang keluar secara alami.

Saat ini, lebih dari 50 kelompok tani atau sekitar 500 orang terlibat dalam ekosistem Java Buana Ciremai. Fokus utama asosiasi sekarang adalah memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) pascapanen. Tujuannya jelas: memastikan petani mendapat harga tinggi melalui kualitas yang konsisten, sekaligus memutus ketergantungan pada rantai tengkulak yang selama ini menggerus keuntungan mereka.

Taufik juga menjelaskan, sebelum adanya Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai, kondisi para petani kopi di Gunung Ciremai sangat memprihatinkan. Kala itu, meski memiliki lahan yang subur, namun karena ketidaktahuan budidaya kopi yang baik dan benar membuat banyak petani kopi Gunung Ciremai sering mengalami kerugian.

Bahkan, kopi Arabika yang kini paling digemari, dianggap sebagai kopi melinjo yang memiliki kualitas buruk dan rasa yang pahang karena tidak dibudidaya dengan baik. Saat itu, karena tidak tahu cara mengolah kopi, membuat para petani tidak pernah menikmati hasil panen mereka sendiri karena seluruh produk dijual mentah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya para tengkulak yang membeli hasil kopi dari petani dengan harga murah.

“Tahun 2015 itu masyarakat, petani nggak tahu itu namanya kopi Arabika. Taunya kopi melinjo karena bentuknya yang mirip. Karena ketika matang mirip melinjo ukurannya. Mereka punya Arabika tapi full 100% dijual, nggak pernah dicicipi. Petani kopi enggak tahu rasa kopi,” ungkap Taufik.

Melihat kondisi tersebut, sekitar tahun 2017, ia mulai mengumpulkan para petani lokal di kawasan Gunung Ciremai. Mereka mulai diberi pelatihan serta akses pasar yang lebih luas. Transformasi besar ini didukung oleh Bank Indonesia (BI) Cirebon yang memberikan pendampingan hulu ke hilir. Fokus utamanya bukan kucuran modal tunai, melainkan edukasi, bantuan mesin, hingga pembukaan akses pasar melalui business matching.

Dalam prosesnya, BI mendatangkan ahli dari pusat penelitian untuk menangani masalah hama. Dukungan sarana seperti mesin barista juga diberikan guna menunjang hilirisasi produk. Di sisi pemasaran, program business matching yang mempertemukan petani dengan calon pembeli menjadi kunci kenaikan transaksi.

Bahkan, fasilitas studi banding ke Gayo, Aceh, yang diberikan BI membuat para petani belajar langsung mengenai sistem industri dan pertanian kopi berkualitas untuk kemudian diterapkan di daerah asal.

“BI punya program nih, mulai concern melihat potensi kopi. Mereka support sistem sama dengan visi-misi kita bahwa ingin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Ada program business matching antara pelaku kopi dengan buyer, calon buyer. Dipertemukan sama BI,” kata Taufik.

Sejak masifnya edukasi dan pendampingan, produktivitas kopi di wilayah ini meroket tajam. Dari yang semula hanya menghasilkan 200 ton per tahun, kini total produksi menyentuh angka 1.700 ton dengan total kapitalisasi nilai mencapai miliaran rupiah. Kopi tersebut dipasarkan tak hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri seperti Thailand, Taiwan, Hong Kong, Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat meski dalam jumlah yang masih terbatas, karena terkendala jumlah petani dan luas lahan.

“Kalau saya 100% malah, jadi dua kali lipat. Setelah ada pendampingan tuh brand kita naik, kualitas kita naik, pengetahuan kita naik. Yang waktu dulu belum ada pembinaan cuma 200 ton kan. Sekarang setiap tahun naik dari 700 ton, 1.300 hingga sekarang 1.700 ton. Meskipun permintaan internasional sangat besar, ekspor saat ini masih terbatas pada skala kiloan hingga hitungan ton, seperti pengiriman 3 ton ke Taiwan dan 2 ton ke Amerika Serikat,” tutur Taufik.

Sementara itu, salah satu petani muda kopi asal Kuningan, Roby SHut dari Kenandra Kopi menjelaskan bahwa pendampingan yang diberikan BI tidak hanya sebatas promosi, melainkan mencakup fasilitasi akses pasar hingga penyediaan bantuan alat pengolahan (processing) serta sarana pendukung pertanian.

Robi menjelaskan, sebagai petani, program akses pasar dari BI jelas sangat penting baginya. Lewat akses pasar tersebut ia bisa bertemu dengan calon pembeli (buyer) dengan aman dan nyaman. Kondisi tersebut membuat jumlah produksi dan omzet yang dihasilkan juga menjadi semakin meningkat.

“Alhamdulillah fasilitas akses pasar dari BI ini sangat membantu. Dari awal-awal lahan hanya setengah hektare, sekarang hampir 15 sampai 20 hektare. Kalau sekarang hasil panen dari 5 hektare yang produktif bisa dapat 2 ton sekali panen. Kita dapat 2 ton kali itu hampir sudah hampir 60 sampai 70 juta sekali musim panen,” ungkapnya.

Sementara itu, peran Bank Indonesia (BI) Cirebon, terus mendorong penguatan rantai pasok dan hilirisasi komoditas lokal kopi lokal guna memperluas pangsa pasar komoditas unggulan daerah. Salah satu komoditas yang menjadi fokus pengembangan adalah kopi Java Buana Ciremai yang berasal dari kawasan lereng Gunung Ciremai.

Untuk mencapai target tersebut, BI Cirebon terus menjalankan berbagai program pendampingan dari sisi hulu hingga hilir. Di sisi hulu, pembinaan difokuskan pada peningkatan kapasitas petani, tata kelola pascapanen, hingga standardisasi mutu biji kopi. Menurutnya, pengolahan yang konsisten dinilai menjadi kunci utama agar biji kopi Java Buana Ciremai memenuhi kriteria industri kedai kopi modern. Sementara di sisi hilir, fasilitasi temu bisnis (business matching) terus digalakkan untuk menghubungkan kelompok tani kopi yang tergabung dalam MPIG Buana Ciremai secara langsung dengan para pengusaha coffee shop, roastery, dan asosiasi barista.

“Kami tidak hanya mendorong dari sisi produksi di petani, tetapi juga menjembatani hubungannya dengan pembeli. Jika kualitasnya konsisten dan pasokannya terjamin, tidak ada alasan bagi coffee shop untuk tidak menyajikan kopi Java Buana Ciremai,” ujar Kepala Bank Indonesia (BI) Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis.

Saat ini, lanjut Rengganis, BI Cirebon mendampingi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang mencakup Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Pendampingan dilakukan dari sisi hulu hingga hilir. Pada bagian hulu, perhatian diarahkan pada peningkatan produktivitas serta kualitas dan mutu kopi. Aspek tersebut menjadi dasar untuk memperkuat daya saing kopi Java Buana Ciremai. Produk dengan kualitas yang terjaga kemudian memiliki ruang untuk diperkenalkan lebih luas melalui kegiatan promosi, baik di dalam negeri maupun ke pasar internasional.

Masih kata Rengganis, pihaknya menempatkan pengembangan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan posisi kopi daerah. “Produk pertanian tidak berhenti pada proses produksi, tetapi perlu memiliki nilai tambah setelah memasuki tahapan pengolahan dan pemasaran,” terangnya. Selain itu, pengembangan juga diarahkan ke sektor hilir. BI mendampingi pengembangan kafe dan UMKM yang berkaitan dengan kopi. Langkah tersebut membuka jalur agar kopi tidak hanya dipandang sebagai hasil perkebunan. Nilai ekonomi dapat dibentuk melalui berbagai kegiatan setelah kopi dipanen, termasuk pengolahan, penyajian, pemasaran, dan pengembangan usaha. Dengan pola tersebut, kata Rengganis, rantai ekonomi kopi mencakup lebih banyak pelaku. Petani berada di sisi produksi, sementara pelaku usaha hilir dapat mengembangkan produk dan pengalaman konsumsi berbasis kopi. Menurutnya, kopi dari kawasan Kuningan (Java Buana Ciremai) memiliki sejarah perdagangan hingga mancanegara.

“Pendampingan terhadap MPIG Buana Ciremai dilakukan untuk mengembangkan kopi dari hulu sampai hilir. Dengan pendekatan tersebut, kopi ditempatkan sebagai produk yang memiliki peluang memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah, tanpa mengabaikan basis utamanya sebagai komoditas perkebunan,” ujarnya.

Perlu diketahui, Bank Indonesia (BI) Cirebon akan membawa kopi asal Kabupaten Kuningan (Java Buana Ciremai) dibawa ke World of Coffee di Bangkok untuk diperkenalkan kepada pasar internasional.
Bahkan, BI Cirebon juga dalam pengembangan kopi Java Buana Ciremai diwujudkan melalui sinergi program peningkatan kapasitas produksi, penguatan kelembagaan, serta fasilitasi promosi perdagangan internasional.

Salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut adalah partisipasi UMKM kopi binaan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai dalam ajang World of Coffee (WoC) Jakarta 2025 lalu. (CP-10)

BENIH KOPI. Kepala Bank Indonesia (BI) Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis tunjukan benih kopi Java Buana Ciremai.

TUNJUKAN JENIS KOPI. Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kuningan, Taufik Hernawan tunjukan jenis-jenis kopi Arabika, Robusta dan Liberika.

Be the first to comment on "Java Buana Ciremai, Peran BI dan Masa Depan Kopi Kuningan"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*